Membandingkan Menyetir di Jalanan Medan dan Jogjakarta
Kenyamanan berkendara itu penting dalam berkendara. Selain konsentrasi yang meningkat dengan tingkat kenyamanan berkendara, keselamatan pengguna jalan juga lebih terjaga dengan kenyamanan dalam berkendara. Kali ini saya coba membandingkan bagaimana kenyamanan berkendara di dua kota yang saya tinggali dan pernah saya tinggali, yaitu Medan dan Yogyakarta.
Sebelumnya, saya ingini menjelaskan terlebih dahulu latar belakang saya menuliskan post ini. Saya adalah seorang pengendara mobil di kota Medan. Sehari-hari saya menggunakan mobil untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain yang cukup jauh. Bagaimana keadaan jalanan di Medan saya sudah cukup mengerti. Bagaimana kenyamanannya terutama.
Akhir-akhir ini saya melakukan perpindahan ke kota Jogjakarta. Perihal kenapa dan mengapanya itu diluar cakupan dari judul posting ini. Satu hal yang pasti adalah, saya sungguh terkejut dengan perubahan iklim berkendara yang saya alami di kota Jogjakarta. Apa saja yang membuat saya terkejut badan?
Ok, kadang tidak separah itu. Namun, tetap saja, menurut saya setelah bertahun-tahun nyetir di Medan, susah sekali mencari persimpangan yang di lampu merahnya itu pengendara bisa berhenti dibelakang garis. Terutama untuk pengendara sepeda motor. Kayanya kalo di Medan itu kalau belum melewati garis, belum afdhal. Nah kalo dibilang ga taat peraturan, nanti jawabnya, “Kan Saya sudah berhenti!” hahaha.
Lihat yang di sebelah kiri, didepan mobil. Memang udah berhenti, tapi berhenti di mana?!
Nah, berbanding terbalik dengan di Jogja. Hampir tidak ada persimpangan yang ada orang berhenti didepan garis. Bahkan lebih mengagetkan lagi buat saya adalah, ada beberapa persimpangan yang garis zebra crossnya itu jauh masuk kedalam persimpangan itu, tidak kelihatan sisi kiri-kanannya, dan para pengguna jalan di Jogjakarta tetap berhenti di belakang garis.
Saya rasa itu adalah sebuah ketaatan terhadap peraturan. Tidak! di Jogja dan di Medan sama! Sama-sama pak Polisi tidak selalu ada di persimpangan untuk menjaga persimpangan dan mengatur lalu lintas. Tapi, di Jogja, tidak perlu polisi untuk memaksa pengguna jalan berhenti di belakang garis! Ironisnya, mengingat waktu saya masih berkendara di Medan, bukan tidak jarang saya melihat polisi di persimpangan namun di depannya banyak sepeda motor yang berhenti di depan garis. Ya! Itulah kenyataannya!
Perhatiin, deh! Kalo naik kendaraan di Medan, ada sela aja antara mobil yang dibelakang dengan yang di depannya, pasti langsung di masukin sama mobil lain dari jalur yang berbeda. Kadang malah dengan keperluan yang ga jelas. Maksudnya, ketika si pengendara itu berpindah jalur juga tidak akan mempercepat waktu perjalanannya karena ya sama-sama nyangkut.
Nah, ketika saya berkendara di Jogja, hal kaya gini itu jarang banget terjadi. Walau beberapa kali memang saya di pepet sama pengguna jalan lain yang mungkin bukan orang lokal. Hampir tidak ada! Terutama ketika dalam antrian, ga ada, atau sangat jarang, ada orang yang nyerobot.
Tingkat pengendara yang tidak teratur jauh berbeda di Jogja jika di banding dengan di Medan. Berkendara di Jogja lebih teratur dibanding di Medan. Satu poin plus untuk kenyamanan berkendara di Jogja.
Beda di Medan dan di Jogja. Di tempat saya dulu, di Medan, banyak pedagang di pinggir jalan. Yang bikin sebel itu, ketika ada yang ingin beli jajanan, yang beli bukannya turun dulu dari kendaraannya, kemudian pesan. Di bela-belain mesan dari mobil dan berhenti di tengah jalan. Di marahin, malah marahin balik! yang naik sepeda motor juga begitu. Hebat kan di Medan?!
Nah di Jogja, saya malah nemu kebalikannya. Hampir tidak ada yang berhenti menggunakan jalan. Bahkan, terkadang saya ngelihat ada yang mau ke rumah makan, parkirnya ya agak jauhan kemudian dia jalan sedikit. Atau di dekat tempat anak saya sekolah ada Indomaret yang sering penuh, kalo parkiran lagi penuh ga ada tuh yang maksa parkir sampai pake badan jalan. Pada nyari tempat parkir di dekatnya, kemudian jalan ke indomaret. Sangat berbeda kan?!
Bukan masalah kepatuhan sih sebenarnya. Atau masalah peraturan lalulintas. Itu cuma masalah budaya, bagaimana kamu perduli dengan orang sekitar kamu. Bagaimana Empathy masih ada di masyarakat. Now you know!?
Saya juga punyaa pengalaman yang ketika saya mengingatnya, saya malu sendiri. Suatu ketika, saya sedang berkendara di daerah jalan parangtritis. Karena kebiasaan di Medan, saya berjalan dengan pelan-pelan tapi di jalur kanan. Ketika saya perhatikan kok ga ada kendaraan di depan saya, saya melihat ke kaca spion dan ternyata sudah panjang antrian di belakang saya.
Saya sama sekali tidak mendengar saya di klakson dari belakang atau suara raungan mesin yang di geber karena marah. tidak! Mereka dengan sabar mengantri dibelakang. Yang ada, saya yang malu sendiri dan kemudian menghidupkan lampu sign ke kiri untuk berpindah jalur ke kiri. Dan semua hanya lewat saja, tanpa marah-marah. Ga kaya di Medan. Pasti saya sudah habis di liatin lah, di marahin lah, di klaksonin lah. Hahaha
Begitulah kira kira sedikit cerita saya mengenai pengalaman berkendara saya i dua tempat yang berbeda. Sekarang baru saya menyadari kenapa ada pepatah yang mengatakan “Kalau kamu bisa Nyetir di Medan, Kamu pasti bisa nyetir dimana aja!” Terbukti!
Saya membuat posting ini bukan untuk menjelek-jelek kan warga Medan atau mengangkat-angkat warga Jogja. Tidak! Saya membuat ini hanya agar kita mulai berefleksi! Mulai berubah menjadi lebih baik. Kalau kamu merasa tersinggung dengan posting ini, fikir lagi! Mungkin sudah saatnya kamu berubah.
Ingat! Keselamatan berkendara dimulai dari dirimu dulu!
Happy driving, Good people!
Sebelumnya, saya ingini menjelaskan terlebih dahulu latar belakang saya menuliskan post ini. Saya adalah seorang pengendara mobil di kota Medan. Sehari-hari saya menggunakan mobil untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain yang cukup jauh. Bagaimana keadaan jalanan di Medan saya sudah cukup mengerti. Bagaimana kenyamanannya terutama.
Akhir-akhir ini saya melakukan perpindahan ke kota Jogjakarta. Perihal kenapa dan mengapanya itu diluar cakupan dari judul posting ini. Satu hal yang pasti adalah, saya sungguh terkejut dengan perubahan iklim berkendara yang saya alami di kota Jogjakarta. Apa saja yang membuat saya terkejut badan?
Ketaatan berlalu lintas
Satu hal yang paling creepy menurut saya ketika berada paling depan di lampu lalulintas ketika menyetir di Medan, adalah ketika saya lihat di sisi seberang atau di kiri dan kanan begitu banyak sepeda motor yang melewati garis, bahkan sering ada yang sampai di pulau jalan seberang.![]() |
| Lihat itu angkot biru yang jalurnya masih merah! WKWKWKW….Ini Medan, Bung! |
Ok, kadang tidak separah itu. Namun, tetap saja, menurut saya setelah bertahun-tahun nyetir di Medan, susah sekali mencari persimpangan yang di lampu merahnya itu pengendara bisa berhenti dibelakang garis. Terutama untuk pengendara sepeda motor. Kayanya kalo di Medan itu kalau belum melewati garis, belum afdhal. Nah kalo dibilang ga taat peraturan, nanti jawabnya, “Kan Saya sudah berhenti!” hahaha.
![]() |
| Berhenti di depan garis |
Nah, berbanding terbalik dengan di Jogja. Hampir tidak ada persimpangan yang ada orang berhenti didepan garis. Bahkan lebih mengagetkan lagi buat saya adalah, ada beberapa persimpangan yang garis zebra crossnya itu jauh masuk kedalam persimpangan itu, tidak kelihatan sisi kiri-kanannya, dan para pengguna jalan di Jogjakarta tetap berhenti di belakang garis.
Saya rasa itu adalah sebuah ketaatan terhadap peraturan. Tidak! di Jogja dan di Medan sama! Sama-sama pak Polisi tidak selalu ada di persimpangan untuk menjaga persimpangan dan mengatur lalu lintas. Tapi, di Jogja, tidak perlu polisi untuk memaksa pengguna jalan berhenti di belakang garis! Ironisnya, mengingat waktu saya masih berkendara di Medan, bukan tidak jarang saya melihat polisi di persimpangan namun di depannya banyak sepeda motor yang berhenti di depan garis. Ya! Itulah kenyataannya!
Budaya yang lebih teratur
Kalau kamu baru pertama kali berkendara di Medan, ada satu hal yang sangat mencolok dengan jalanan disana. Apa itu? Jalur kendaraan yang ‘abstrak’!! Haha, kenapa abstrak? Karena tidak ada pengemudi di Medan yang tahan lama berada di satu jalur saja.Perhatiin, deh! Kalo naik kendaraan di Medan, ada sela aja antara mobil yang dibelakang dengan yang di depannya, pasti langsung di masukin sama mobil lain dari jalur yang berbeda. Kadang malah dengan keperluan yang ga jelas. Maksudnya, ketika si pengendara itu berpindah jalur juga tidak akan mempercepat waktu perjalanannya karena ya sama-sama nyangkut.
Nah, ketika saya berkendara di Jogja, hal kaya gini itu jarang banget terjadi. Walau beberapa kali memang saya di pepet sama pengguna jalan lain yang mungkin bukan orang lokal. Hampir tidak ada! Terutama ketika dalam antrian, ga ada, atau sangat jarang, ada orang yang nyerobot.
Tingkat pengendara yang tidak teratur jauh berbeda di Jogja jika di banding dengan di Medan. Berkendara di Jogja lebih teratur dibanding di Medan. Satu poin plus untuk kenyamanan berkendara di Jogja.
Menghargai pengguna jalan
Perbedaan berikutnya dalam menggunakan jalan di Jogja dan Medan, menurut saya, adalah penghargaan atas pengguna jalan lain. Pola pikir bahwa “Hey! Yang make jalan bukan saya doang! Orang lain juga perlu jalan!” Itu yang selama saya berkendara di Medan, yang sering bikin saya mencak-mencak.Beda di Medan dan di Jogja. Di tempat saya dulu, di Medan, banyak pedagang di pinggir jalan. Yang bikin sebel itu, ketika ada yang ingin beli jajanan, yang beli bukannya turun dulu dari kendaraannya, kemudian pesan. Di bela-belain mesan dari mobil dan berhenti di tengah jalan. Di marahin, malah marahin balik! yang naik sepeda motor juga begitu. Hebat kan di Medan?!
Nah di Jogja, saya malah nemu kebalikannya. Hampir tidak ada yang berhenti menggunakan jalan. Bahkan, terkadang saya ngelihat ada yang mau ke rumah makan, parkirnya ya agak jauhan kemudian dia jalan sedikit. Atau di dekat tempat anak saya sekolah ada Indomaret yang sering penuh, kalo parkiran lagi penuh ga ada tuh yang maksa parkir sampai pake badan jalan. Pada nyari tempat parkir di dekatnya, kemudian jalan ke indomaret. Sangat berbeda kan?!
Bukan masalah kepatuhan sih sebenarnya. Atau masalah peraturan lalulintas. Itu cuma masalah budaya, bagaimana kamu perduli dengan orang sekitar kamu. Bagaimana Empathy masih ada di masyarakat. Now you know!?
Sabar..
Ini yang sangat menggelikan menurut saya. Mulai dari pertama saya masuk ke jalanan Jogja, sangat…sangat…sangat jarang saya mendengar suara klakson! Bahkan sampai anak saya yang baru berumur 8 tahun juga bertanya, “Daddy, kenapa ya di Jogja itu sama di Medan kon beda kali? Kalo di Jogja, kakak jarang banget dengar suara klakson?!” Itu ekspresi seorang anak kecil, lho!Saya juga punyaa pengalaman yang ketika saya mengingatnya, saya malu sendiri. Suatu ketika, saya sedang berkendara di daerah jalan parangtritis. Karena kebiasaan di Medan, saya berjalan dengan pelan-pelan tapi di jalur kanan. Ketika saya perhatikan kok ga ada kendaraan di depan saya, saya melihat ke kaca spion dan ternyata sudah panjang antrian di belakang saya.
Saya sama sekali tidak mendengar saya di klakson dari belakang atau suara raungan mesin yang di geber karena marah. tidak! Mereka dengan sabar mengantri dibelakang. Yang ada, saya yang malu sendiri dan kemudian menghidupkan lampu sign ke kiri untuk berpindah jalur ke kiri. Dan semua hanya lewat saja, tanpa marah-marah. Ga kaya di Medan. Pasti saya sudah habis di liatin lah, di marahin lah, di klaksonin lah. Hahaha
Begitulah kira kira sedikit cerita saya mengenai pengalaman berkendara saya i dua tempat yang berbeda. Sekarang baru saya menyadari kenapa ada pepatah yang mengatakan “Kalau kamu bisa Nyetir di Medan, Kamu pasti bisa nyetir dimana aja!” Terbukti!
Saya membuat posting ini bukan untuk menjelek-jelek kan warga Medan atau mengangkat-angkat warga Jogja. Tidak! Saya membuat ini hanya agar kita mulai berefleksi! Mulai berubah menjadi lebih baik. Kalau kamu merasa tersinggung dengan posting ini, fikir lagi! Mungkin sudah saatnya kamu berubah.
Ingat! Keselamatan berkendara dimulai dari dirimu dulu!
Happy driving, Good people!


Komentar
Posting Komentar